Stories




Cerita pendek
di bawah ini saya menulis pada tahun 1998 untuk buletin PPLH Seloliman. Sejauh saya tahu cerita ini waktu itu tidak dimuat, karena penerbitan buletin "Seloliman" dihentikan.
Waktu saya menemukan cerita ini lagi di antara file-file lama, saya cenderung mengubah beberapa hal dalam teks. Walaupun begitu, saya memutuskan untuk memasang versi asli di website ini.

Yang menarik: di cerita ini fokusnya ke pencemaran yang dapat menyebabkan penyakit, dan tidak ke pencemaran yang berdampak pada pemanasan global atau perubahan iklim. Pada tahun 1998 perubahan iklim sudah dibicarakan, tapi belum jadi topik dominan seperti akhir-akhir ini.

Semoga kita tidak lupa bahwa selain perubahan iklim masih ada banyak masalah lingkungan hidup lain yang belum diselesaikan.



Jatuh

Oleh: Sybout Porte



Dua orang laki-laki dengan pakaian seragam warna coklat mengantar saya melewati lorong yang panjang. Suara sepatu mereka mengeluarkan bunyi yang keras pada setiap hentakan langkah. "Terus!", perintah orang yang di sebelah kiri saya sambil mendorong tubuh saya ke depan.

Di manakah saya? Gedung besar apa ini? Tiba di ujung lorong kami masuk ruangan yang lebih besar. Di bangku depan tembok ada beberapa orang yang sedang menunggu. Di kiri-kanan sebuah pintu besar yang terbuat dari kayu jati berdiri dua orang laki-laki yang juga memakai seragam warna coklat. Di tembok sebelah pintu ada papan di mana ditulis: "Sidang Pencemaran Udara - tgl. 31 Januari 2003". Di bawahnya ada daftar nama di mana nama saya juga tertulis. Saya betul-betul heran dan bertanya: "Tahun 2003, sandiwara apa ini?" "Diam!", bentak laki-laki yang di sebelah kiri saya. Pintu besar sedang dibuka oleh petugas dan sekarang saya bisa melihat ke dalam ruangan besar di mana ratusan orang duduk. Di depan ada meja panjang ditutup kain hijau. Di belakangnya duduk beberapa orang dengan ekspresi serius. Sebuah pagar kayu yang memisahkan meja panjang dengan bagian lain dalam ruangan. "Jalan!", bentak laki-laki sebelah kiri saya lagi.

Tiba-tiba saya sadar bahwa saya akan menghadapi peradilan. Perlahan rasa takut masuk ke semua bagian tubuh saya dan saya mulai gemetar. Apa tuduhan buat saya? Sambil berjalan ke depan saya bisa melihat siapa saja hadir di ruangan. Ada teman-teman dari PPLH, ada beberapa guru, tetapi ada juga beberapa orang yang saya belum kenal. Bagaimana mungkin mereka sudah tahu saya dibawa ke sini? Apa yang saya bisa sampaikan sebagai pembelaan?

Saya tidak punya banyak waktu untuk berpikir, karena nama saya sudah dipanggil oleh hakim dan dua pengawas mendorong saya ke pagar kayu di depan. Hakim membacakan tuduhan terhadap saya dalam bahasa yang sangat resmi. Bagaimana ini? Saya dituduh terlibat penyebab pencemaran udara, karena saya dalam periode 1993 -2003 terlalu sering naik pesawat terbang? Para pendakwa adalah penderita penyakit paru-paru dan penyakit kanker. Pada saat saya diberikan kesempatan membela diri, saya coba menjelaskan: "Sebetulnya hanya beberapa kali saja dalam setahun saya naik pesawat terbang di dalam negri, Pak Hakim, dan waktu itu saya belum tahu seberapa parah dampak pencemaran gas yang dikeluarkan pesawat terbang, Pak Hakim." Sekarang pengacara pendakwa mulai berbicara: "Terdakwa minimal empat kali setahun naik pesawat terbang di dalam Indonesia, dan setiap dua tahun terbang ke Eropa. Sebagai staf salah satu lembaga lingkungan hidup terdakwa memberikan contoh yang berpengaruh negatif kepada orang lain. Terdakwa pada tahun 1998 sudah tahu tentang bahaya pencemaran oleh pesawat terbang. Buktinya adalah cerita berjudul "jatuh" yang terdakwa tulis untuk buletin "Seloliman". Pengacara berikan satu eksemplar buletin "Seloliman" ke hakim. Hakim membacakannya sebentar dan langsung mengambil keputusan: "terdakwa dihukum seumur hidup!" Sebagian penghadir yang saya belum kenal mulai bersorak, namun kemudian hanya suara batuk mereka yang terdengar.

Tanpa diberikan waktu untuk membela diri lagi, atau ucapan perpisahan pada teman-teman, saya dikeluarkan lewat pintu samping. Lagi ada lorong panjang, tetapi lorong ini agak gelap. Tiba-tiba kami berhenti di depan pintu bertrali. "Masuk!", perintah petugas di sebelah kiri saya sambil membuka pintu. Saya melihat ke dalam sel dan betapa terkejutnya ini bukan sel, tetapi lubang gelap yang sangat dalam. "Tetapi sel ini tidak punya lantai", saya berteriak ke pengawas. Pengawas tertawa keras dan katakan: "kalau sel-sel punya lantai, penjara ini terlalu cepat penuh dengan penjahat pencemaran!" Langsung saya didorong dengan keras dan saya jatuh... , jatuh... , jatuh... .

"Fasten your seat belts please!" Saya bangun dengan terkejut dan membuka mata saya. Sudah berapa jam saya tertidur? Tadi saya berangkat naik pesawat terbang dari Jakarta ke Ujung Pandang. Lewat speaker di atas saya terdengar suara pramugari: "Para penumpang terhormat, kami telah berada di udara yang kurang stabil. Untuk keselamatan anda, kami mohon kenakan segera sabuk pengaman anda." Kalimat ini belum selesai ketika pesawat mulai jatuh beberapa puluh meter. Saya coba tetap tenang dan berpikir: apa tadi saya mimpi? Di pangkuan saya ada surat kabar yang sedang saya baca pada saat pesawat berangkat. Ada dua artikel yang menarik perhatian saya: yang satu cerita tentang proses terdakwa kejahatan perang Yugoslavia di Den Haag, dan yang lain adalah diskusi tentang hasil Konferensi Iklim Dunia di Kyoto.

Pada saat tanda "menggunakan sabuk pengaman" sudah lama dimatikan, saya masih sibuk berpikir: apakah mimpi itu hanya merupakan kekacauan ingatan pada saat kita tidur, atau mimpi merupakan alat untuk menyampaikan sesuatu kepada kita?


(Ujung Pandang, 16 Januari 1998)




About

The pages in the categories "animals" and "plants" give an impression of life in the front- and backyard of my house in Makassar, South Sulawesi, Indonesia. The photos were made in a period of several years.

Contact